Lokasi: Teknologi >>

PCOS Berganti Nama Jadi PMOS, Bukan Hanya Soal Kista

Teknologi4 Dilihat

RingkasanLebih dari 50 organisasi pasien dan profesional, termasuk Endocrine Society, mendukung upaya perubahan nama Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS). Upaya ini merupakan hasil kolaborasi internasional selama 14 tahun antara peneliti, dokter, dan penyintas kondisi tersebut....

PCOS Berganti Nama Jadi PMOS,<strong></strong> Bukan Hanya Soal Kista

Lebih dari 50 organisasi pasien dan profesional, termasuk Endocrine Society, mendukung upaya perubahan nama Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS). Upaya ini merupakan hasil kolaborasi internasional selama 14 tahun antara peneliti, dokter, dan penyintas kondisi tersebut. Profesor Helena Teede, pemimpin inisiatif pergantian nama, menyatakan nama lama membuat banyak orang percaya kondisi ini terutama berkaitan dengan kista ovarium, padahal pemahaman tersebut tidak lengkap dan menyesatkan.

Teede, yang menjabat sebagai Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation di Monash University dan ahli endokrinologi di Monash Health, menjelaskan nama lama telah mereduksi “gangguan hormonal atau endokrin kompleks jangka panjang menjadi kesalahpahaman tentang ‘kista’ dan fokus berlebihan pada ovarium.” Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesuburan atau siklus menstruasi, tetapi juga mencakup gejala seperti menstruasi tidak teratur, jerawat, pertumbuhan rambut berlebih di wajah atau tubuh, rambut menipis, perubahan berat badan, hingga infertilitas, menurut WHO dan Cleveland Clinic. Para ahli menegaskan kondisi ini dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, Type 2 Diabetes, obesitas, hipertensi, dan depresi.

Nama baru PMOS dipilih untuk lebih mencerminkan aspek hormonal, metabolik, dan reproduksi dari kondisi ini. “Sangat menyedihkan melihat keterlambatan diagnosis, rendahnya kesadaran, dan kurang memadainya perawatan bagi mereka yang terdampak kondisi yang terabaikan ini,” ujar Teede. Bagi sebagian perempuan yang terlibat dalam proses ini, perubahan nama tersebut menjadi bentuk validasi setelah bertahun-tahun frustrasi karena dampak kesehatan yang lebih luas sering kali terabaikan akibat cara kondisi ini diberi label.

Tags:

Artikel Terkait