Lokasi: Properti >>

ESG Batu Bara: Laporan Hijau Bentrok Fakta Lapangan

Properti4 Dilihat

RingkasanPraktik keberlanjutan di sektor pertambangan Indonesia dinilai masih setengah hati karena hanya berfokus pada emisi operasional, tanpa menyentuh rantai pasok hingga dampak sosial di sekitar area tambang. Isu krusial ini mengemuka dalam workshop media bertajuk "Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan" yang digelar Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI) dan Katadata Green di Jakarta, Rabu (13/5/2026)....

ESG Batu Bara: Laporan Hijau Bentrok Fakta Lapangan

Praktik keberlanjutan di sektor pertambangan Indonesia dinilai masih setengah hati karena hanya berfokus pada emisi operasional, tanpa menyentuh rantai pasok hingga dampak sosial di sekitar area tambang. Isu krusial ini mengemuka dalam workshop media bertajuk "Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan" yang digelar Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI) dan Katadata Green di Jakarta, Rabu (13/5/2026). Ahli Life Cycle Expert Panel KESGI, Jessica Hanafi, menekankan bahwa dekarbonisasi harus mencakup siklus hidup lengkap, termasuk transportasi, pengelolaan limbah B3, hingga dampak pembakaran. “Kita harus melihat siklus hidup lengkap; dari transportasi, pengelolaan limbah B3, hingga dampak pembakaran,” tegasnya.

Selain aspek lingkungan, Jessica Hanafi menyoroti "lubang" dalam laporan sosial perusahaan yang kerap mengabaikan isu kesehatan masyarakat akibat debu tambang, seperti gangguan pernapasan. Menurutnya, dampak kesehatan ini sering kali absen dari laporan keberlanjutan dan kalah mentereng dibanding statistik kecelakaan kerja yang mulai menurun. Ia juga mengingatkan risiko munculnya "kota mati" jika transisi energi tidak mempertimbangkan nasib pekerja yang menggantungkan hidup pada sektor pertambangan.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Victoria Fanggidae, melontarkan kritik tajam terhadap komitmen ESG yang tidak bisa diverifikasi di lapangan. Baginya, praktik tersebut hanyalah sekadar pajangan tanpa dampak nyata. “ESG yang baik itu harus bisa diukur dan dirasakan manfaatnya. Kalau tidak, itu cuma narasi,” ujar Victoria Fanggidae.

Tags:

Artikel Terkait