Lokasi: Kuliner >>

Prabowo Bentuk Danantara, Ekspor SDA Satu Pintu

Kuliner33 Dilihat

RingkasanPemerintah Indonesia melalui kebijakan baru menerapkan agregasi ekspor pada tahap awal untuk komoditas sawit, batu bara, dan paduan logam (ferroalloy) yang memiliki nilai ekspor sangat besar. Langkah ini merupakan upaya konkret untuk menutup kebocoran nilai ekspor dan mengonsolidasikan pencatatan, validasi harga, serta repatriasi devisa....

Prabowo Bentuk Danantara,<strong></strong> Ekspor SDA Satu Pintu

Pemerintah Indonesia melalui kebijakan baru menerapkan agregasi ekspor pada tahap awal untuk komoditas sawit, batu bara, dan paduan logam (ferroalloy) yang memiliki nilai ekspor sangat besar. Langkah ini merupakan upaya konkret untuk menutup kebocoran nilai ekspor dan mengonsolidasikan pencatatan, validasi harga, serta repatriasi devisa.

Menanggapi kebijakan tersebut, Board of Trustees Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Fuad, menyatakan bahwa sebagai negara komoditas besar, Indonesia membutuhkan instrumen yang mampu mengonsolidasikan pencatatan, validasi harga, dan repatriasi. Sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo, akumulasi indikasi under-invoicing mencapai angka yang signifikan. Menurut Fuad, angka ini menggambarkan besarnya potensi nilai yang selama ini belum sepenuhnya memberi manfaat bagi perekonomian nasional.

Fuad menambahkan, secara kelembagaan, agregasi ekspor bukan hal baru di Indonesia. Pengelolaan timah melalui PT Timah dan tata kelola minyak dan gas melalui SKK Migas dengan skema Production Sharing Contract (PSC) telah menjadi bentuk agregasi parsial yang berjalan. Di tingkat global, model serupa banyak diterapkan, mulai dari perusahaan energi negara seperti Saudi Aramco dan QatarEnergy, state trading enterprise di China seperti COFCO, hingga single-desk exporter seperti Zespri di sektor kiwifruit Selandia Baru serta koperasi dominan seperti Fonterra di sektor susu yang menguasai sebagian besar volume perdagangan.

Fuad juga menggarisbawahi, dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, pelaku ekonomi dan investor cenderung memantau bagaimana sinkronisasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektoral dijalankan secara konsisten dan prudent.

Tags:

Artikel Terkait