Lokasi: Otomotif >>
Tujuh Komoditas Strategis Tak Perlu Impor, Ketahanan Pangan Kuat
Otomotif524 Dilihat
RingkasanPemerintah menegaskan penilaian ketahanan pangan tidak bisa hanya didasarkan pada komoditas seperti gandum yang secara agroklimatologis belum optimal diproduksi di dalam negeri. Kebijakan swasembada pangan tetap berjalan melalui penguatan produksi domestik, peningkatan cadangan pangan nasional, serta percepatan pembangunan kawasan swasembada pangan, energi, dan air sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 2025....
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/lahan-pertanian-di-papua-barat.jpg)
Pemerintah menegaskan penilaian ketahanan pangan tidak bisa hanya didasarkan pada komoditas seperti gandum yang secara agroklimatologis belum optimal diproduksi di dalam negeri. Kebijakan swasembada pangan tetap berjalan melalui penguatan produksi domestik, peningkatan cadangan pangan nasional, serta percepatan pembangunan kawasan swasembada pangan, energi, dan air sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 2025. Melalui Inpres tersebut, pemerintah menugaskan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan kawasan swasembada di wilayah seperti Papua Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan daerah lain yang masuk rencana induk pembangunan.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 yang disusun Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama kementerian dan lembaga terkait, dari 10 jenis pangan pokok strategis, hanya tiga komoditas yang masih memerlukan impor. Tujuh komoditas lainnya diproyeksikan tidak memerlukan impor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, yaitu beras, jagung, bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi. Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan ketersediaan pangan pokok strategis nasional berada dalam kondisi aman. “Ketersediaan komoditas pangan strategis nasional berada pada kondisi surplus dan relatif aman,” ujar Amran dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI.
Pemerintah mencatat hingga akhir Mei 2026 proyeksi surplus beberapa komoditas strategis meliputi beras sebesar 16,39 juta ton, jagung4,3 juta ton, gula konsumsi632 ribu ton, daging ayam837 ribu ton, serta telur ayam423 ribu ton. Pemerintah juga menekankan data impor pangan perlu dibaca secara utuh dengan membedakan antara komoditas utama konsumsi masyarakat dan komoditas tertentu yang masih menjadi agenda substitusi impor jangka menengah. Bapanas mencatat Indonesia tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang 2025 karena produksi mencapai 34,7 juta ton, sedangkan kebutuhan tahunan berada pada kisaran 31,1 juta ton.
Tags:
Bagikan: Silakan bagikan artikel ini, harap sertakan sumber "Portal Berita Terkini Indonesia"。http://singaporeindustryscholarship.sg/news/56c3499909.html
Artikel Terkait
Terdakwa Ibrahim Pejamkan Mata Sebelum Vonis Chromebook
OtomotifIbam, mantan Konsultan Teknologi Kemdikbudristek, menjalani sidang penentuan nasib pada Selasa (12/5/2026) siang di ruang pengadilan yang penuh sesak. Mengenakan kemeja batik lengan panjang biru tua, Ibam duduk didampingi istrinya sambil sesekali memejamkan mata dan menggenggam erat buku catatan, menunggu sidang yang tertunda lebih dari 30 menit....
【Otomotif】
Baca SelengkapnyaOperasi Sindoor Ubah Dinamika Konflik India-Pakistan
OtomotifIndia meluncurkan Operasi Sindoor yang menyerang sembilan target terkait Lashkar-e-Taiba (LeT) dan Jaish-e-Mohammed (JeM), termasuk markas LeT di Muridke dan kompleks JeM di Bahawalpur, demikian dikutip dari National Interest pada Kamis (14/5/2026). Pakistan saat itu menolak argumen tersebut dan menilai dampak utama Operasi Sindoor bukan hanya kerusakan fisik terhadap target militan, melainkan perubahan perhitungan biaya politik dan militer terkait terorisme lintas batas....
【Otomotif】
Baca SelengkapnyaInggris Pasang Sistem Anti-Drone Baru di Jet Tempur Typhoon
OtomotifInggris menerapkan langkah baru di tengah meningkatnya kekhawatiran London terhadap potensi eskalasi konflik regional yang dipicu ketegangan terkait perang yang didukung Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut. Pemerintah Inggris mengklaim sistem itu mampu meningkatkan perlindungan bagi personel militer, sementara APKWS disebut memungkinkan jet tempur menghancurkan target secara presisi dengan biaya yang hanya sebagian kecil dari rudal standar yang selama ini digunakan....
【Otomotif】
Baca Selengkapnya
Artikel Populer
- 3 Oknum TNI Bebas dari Pasal Pembunuhan Berencana
- Global Sumud Nusantara dan Flotilla Ditangkap Israel
- Kebakaran Hutan Landa Afrika-Asia, El Nino Perparah Bencana
- China Ungguli AS dalam Jumlah Mitra Dagang Global
- Virus Hanta Menular Lewat Kotoran Tikus, Waspadai Demam-Sesak
- Jurnalis Indonesia Ditangkap Israel, Sempat Kirim SOS
Artikel Terbaru
Anggota DPR Bantah Garudayaksa FC Promosi karena Prabowo
Pengadilan Houthi Yaman Hukum Mati 19 Terkait Koalisi Saudi
13 Negara Terdampak Hantavirus Kapal Pesiar, F-35 Kirim SOS
Transfer Minyak Rahasia Dekat Malaysia Diduga Jalur Iran-China
Preeklampsia Ancaman Serius Ibu Hamil, Deteksi Dini Penting
Iran Ancam Jadikan Teluk Oman Kuburan Kapal AS
Tautan Sahabat
- Wamena Resmi Operasi, Kapasitas Internet Tembus 40 Gbps
- LG Rilis Mesin Cuci AI 20 Kg, Tipe WashTower dan Top Loading
- iOS 27 Hadirkan Fitur AI Canggih untuk Kamera
- Survei CNET: 13 Persen Konsumen Minat Ponsel Lipat
- Apple dan Intel Kembali Jalin Kerja Sama
- Kode Redeem FC Mobile 12 Mei 2026, Klaim Gems Gratis
- Menkomdigi Wajibkan Nomor Telepon untuk Registrasi Medsos
- Apple Hadirkan Iklan di Apple Maps, Privasi Tetap Terjaga
- Netflix Tambah Iklan di Aplikasi Mulai 2027
- Kode Redeem FC Mobile 13 Mei 2026: 1.000 Gems & 5 Juta