Lokasi: Kuliner >>

Tangis Santriwati Ponpes Pati: Yatim Piatu, Terancam Putus Sekolah

Kuliner4 Dilihat

RingkasanKomisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, mengungkapkan mayoritas korban kekerasan di sebuah pondok pesantren adalah anak yatim dan duafa tanpa orang tua. Dalam wawancara eksklusif di Studio Tribunnews, Jakarta, Senin (11/5/2026), Diyah menjelaskan anak-anak tersebut tidak memiliki tempat mengadu dan bergantung penuh pada lingkungan pondok....

Tangis Santriwati Ponpes Pati: Yatim Piatu,<strong></strong> Terancam Putus Sekolah

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, mengungkapkan mayoritas korban kekerasan di sebuah pondok pesantren adalah anak yatim dan duafa tanpa orang tua. Dalam wawancara eksklusif di Studio Tribunnews, Jakarta, Senin (11/5/2026), Diyah menjelaskan anak-anak tersebut tidak memiliki tempat mengadu dan bergantung penuh pada lingkungan pondok. Mereka tumbuh dalam kepatuhan mutlak terhadap pemimpin pesantren karena khawatir kehilangan tempat tinggal dan akses pendidikan. “Mereka semua sangat manut, ikut saja apa yang diperintahkan pemimpin pondok,” katanya.

KPAI memperkirakan jumlah korban bukan hanya sekitar 50 anak, melainkan dapat bertambah lebih banyak. Pola kekerasan diduga berlangsung lama, rapi, dan sistematis di lingkungan pondok pesantren tersebut. Diyah menambahkan sejumlah korban bahkan mengalami intimidasi hingga mencabut keterangan yang telah diberikan. “Ada yang mendapatkan intimidasi. Korban takut speak up,” ujar Diyah dalam wawancara tersebut.

Kondisi ini membuat proses pengungkapan kasus menjadi semakin sulit karena para korban berada dalam tekanan psikologis yang berat. KPAI terus mendorong aparat penegak hukum untuk melindungi saksi dan korban agar berani bersuara. Diyah menekankan perlunya pendampingan intensif bagi anak-anak yatim dan duafa yang menjadi korban kekerasan di lembaga pendidikan keagamaan.

Tags:

Artikel Terkait