Lokasi: Kuliner >>

Susukan Menangi Desa BRILiaN BRI dengan Ekonomi Cetuk

Kuliner82947 Dilihat

RingkasanRibuan desa di Indonesia berlomba-lomba memoles curug, membangun spot foto di atas bukit, atau menggali kembali narasi situs purbakala. Tidak ada gemericik air terjun yang eksotis, tidak ada situs sejarah peninggalan kerajaan, apalagi panorama sawah yang membentang luas....

Susukan Menangi Desa BRILiaN BRI dengan Ekonomi Cetuk

Ribuan desa di Indonesia berlomba-lomba memoles curug, membangun spot foto di atas bukit, atau menggali kembali narasi situs purbakala. Tidak ada gemericik air terjun yang eksotis, tidak ada situs sejarah peninggalan kerajaan, apalagi panorama sawah yang membentang luas. Alek, mantan bankir kawakan yang telah menghabiskan 12 tahun di industri perbankan, memutuskan untuk berhenti mencari "objek wisata" dan mulai menghitung "objek ekonomi". Di hadapan para juri dan akademisi, Alek membawa narasi yang tak biasa dengan membedah Desa Susukan sebagai sebuah ekosistem transaksi yang masif.

Program Desa BRILian adalah program pemberdayaan unggulan BRI sejak 2020 untuk memajukan ekonomi pedesaan melalui pelatihan, pendampingan, dan digitalisasi. Program ini berfokus pada empat aspek utama: penguatan BUMDes, digitalisasi layanan/produk, inovasi, dan keberlanjutan. Hingga 2025, program ini telah menjangkau lebih dari 4.600 desa. Awalnya Alek merasa malas, namun keengganan itu berubah menjadi tantangan saat tim BRI terus mendorongnya untuk maju pada Mei 2025.

Di mata Alek, 22.000 penduduk Desa Susukan adalah aset yang jauh lebih bernilai daripada sekadar pemandangan alam. "Logika perbankan itu sederhana: funding dan lending. Apa gunanya tempat wisata bagus kalau penduduknya sedikit dan jarang menabung? Di Susukan, setiap jengkal ada warung. Setiap kepala punya HP. Potensi transaksi ekonomi di sini lebih nyata daripada air terjun di tengah hutan," ujarnya. Ia menggambarkan potensi itu melalui suara notifikasi ponsel warga, di mana setiap dering notifikasi transaksi adalah "tambang emas" yang sesungguhnya bagi perbankan. "Bayangkan masyarakat yang bertransaksi setiap hari melalui HP. Pertanyaannya, saat bunyinya 'cetuk' atau 'kling', apakah itu masuk ke BRI, atau ke penyedia dompet digital lain? Inilah potensi tertinggi yang dicari perbankan: jumlah penduduk dan kecepatan transaksi ekonomi," jelasnya.

Tags:

Artikel Terkait