Lokasi: Gaya Hidup >>

131 Meninggal Akibat Ebola di Kongo, WHO Khawatir Penularan Cepat

Gaya Hidup377 Dilihat

RingkasanDirektur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan keprihatinan mendalam terhadap skala dan kecepatan epidemi Ebola di Republik Demokratik Kongo. "Saya sangat prihatin dengan skala dan kecepatan epidemi ini," kata Ghebreyesus kepada peserta Majelis Kesehatan Dunia di Jenewa pada Selasa, sambil menyoroti jumlah kasus yang dilaporkan di wilayah perkotaan dan di kalangan tenaga kesehatan....

131 Meninggal Akibat Ebola di Kongo,<strong></strong> WHO Khawatir Penularan Cepat

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan keprihatinan mendalam terhadap skala dan kecepatan epidemi Ebola di Republik Demokratik Kongo. "Saya sangat prihatin dengan skala dan kecepatan epidemi ini," kata Ghebreyesus kepada peserta Majelis Kesehatan Dunia di Jenewa pada Selasa, sambil menyoroti jumlah kasus yang dilaporkan di wilayah perkotaan dan di kalangan tenaga kesehatan. Kematian terbaru itu membuat total korban meninggal terkait wabah Ebola terus bertambah, sementara otoritas kesehatan mencatat terdapat 516 kasus suspek dan 33 kasus terkonfirmasi.

Sementara itu, dua kasus lainnya dikonfirmasi di negara tetangga, Uganda. Para ahli khawatir karena virus tersebut diduga telah menyebar selama berminggu-minggu tanpa terdeteksi di wilayah padat penduduk di Kota Butembo di Provinsi Kivu Utara, yang dihuni ratusan ribu penduduk. Kota tersebut melaporkan dua kasus terkonfirmasi pertamanya pada Senin, kata Direktur Institut Nasional untuk Penelitian Biomedis. Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh manusia atau hewan yang terinfeksi, dengan gejala meliputi demam tinggi, muntah, serta pendarahan internal dan eksternal.

Amerika Serikat disebut tengah mengembangkan terapi antibodi monoklonal sebagai pengobatan potensial untuk virus tersebut, menurut CDC pada Senin. WHO juga akan menggelar pertemuan panel ahli guna membahas kemungkinan penggunaan vaksin untuk membantu mengendalikan wabah di Republik Demokratik Kongo dan negara-negara tetangga.

Tags:

Artikel Terkait