Lokasi: Kuliner >>

Butet Kartaredjasa Orasi di Titik Nol Yogya Peringati Reformasi

Kuliner21313 Dilihat

RingkasanRatusan massa memadati Panggung Budaya di kawasan Malioboro, Yogyakarta, dalam sebuah acara yang bukan sekadar refleksi sejarah melainkan ruang kolektif untuk membangkitkan kembali keberanian anak muda yang sempat tertekan akibat berbagai peristiwa penangkapan aktivis sejak Agustus lalu. Panggung budaya ini juga menandai peringatan 13 tahun berdirinya organisasi pergerakan Social Movement Institute (SMI)....

Butet Kartaredjasa Orasi di Titik Nol Yogya Peringati Reformasi

Ratusan massa memadati Panggung Budaya di kawasan Malioboro,Yogyakarta, dalam sebuah acara yang bukan sekadar refleksi sejarah melainkan ruang kolektif untuk membangkitkan kembali keberanian anak muda yang sempat tertekan akibat berbagai peristiwa penangkapan aktivis sejak Agustus lalu. Panggung budaya ini juga menandai peringatan 13 tahun berdirinya organisasi pergerakan Social Movement Institute (SMI). Sejumlah seniman, budayawan, dan grup musik lintas generasi turut hadir memadati panggung untuk memberikan dukungan moral, di antaranya Majelis Lidah Berduri, Efek Rumah Kaca, Usman and the Black Stone, hingga budayawan senior.

Di hadapan ratusan massa, ia menarik garis historis bagaimana kekuatan gerakan mahasiswa kala itu mampu mengubah peta politik nasional, sekaligus memberikan kritik keras terhadap situasi ekonomi dan ketimpangan sosial saat ini. "Dan apa yang terjadi? Satu hari setelah Ngarsa Dalem menerima Pisowanan Agung, Pak Harto mengundurkan diri. Nah, hari ini saya tadi baca di media sosial, harga beras sudah 17.000 rupiah. Saya tidak tahu minggu depan akan naik menjadi berapa. Dan kalau harga beras naik, rakyat kelaparan. Maka saya akan bertanya kepada anak-anak muda di depan saya, Apakah kalian sanggup berada di garis depan untuk memimpin revolusi?," lanjut Butet.

Menurutnya, lewat film tersebut masyarakat bisa mendapatkan gambaran mengenai praktik kolonialisme yang sedang terjadi di Indonesia, salah satunya melalui penjajahan yang dialami oleh warga di Papua. Ia menyatakan bahwa pihak yang menjajah tersebut merupakan para maling yang menjadi pejabat tinggi di Jakarta.

Tags:

Artikel Terkait