Lokasi: Kuliner >>

Studi: 60% Anak Muda Urban Pilih Swadiagnosis Saat Sakit

Kuliner9479 Dilihat

RingkasanPenelitian pada Maret–Mei 2026 dengan metode mixed-method melibatkan 448 responden dari kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Ketua peneliti sekaligus Pendiri HCC, Dr....

Studi: 60% Anak Muda Urban Pilih Swadiagnosis Saat Sakit

Penelitian pada Maret–Mei 2026 dengan metode mixed-method melibatkan 448 responden dari kota besar seperti Jabodetabek,Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Ketua peneliti sekaligus Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menilai fenomena swadiagnostik telah menjadi budaya kesehatan generasi urban. "Swadiagnostik saat ini sudah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban. Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi ‘dokter pertama’ sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan," ujar Ray di Jakarta, Selasa (13/5/2026).

Studi bersama Yoli Farradika sebagai research associate menemukan Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis, disusul situs kesehatan dan konten digital lainnya. Keluhan yang paling sering dicari meliputi gangguan pernapasan, kardiovaskular, pencernaan, hingga gangguan psikologis. Fenomena ini berkaitan dengan istilah cyberchondria, yaitu meningkatnya kecemasan kesehatan akibat pencarian informasi medis berlebihan di internet. Penelitian mencatat 36 persen responden melakukan swamedikasi tanpa konsultasi dokter, sementara 27 persen mengabaikan resep medis karena bertentangan dengan informasi dari internet.

Menariknya, 57 persen hasil swadiagnosis ternyata sesuai dengan diagnosis medis. "Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu," jelas Ray. Temuan ini menyoroti perlunya literasi digital kesehatan di kalangan masyarakat urban.

Tags:

Artikel Terkait